DISORIENTASI GERAKAN MAHASISWA (catatan untuk para aktifis)

Fakta historis mencatat gerakan mahasiswa berperan penting dalam perubahan masyarakat Indonesia. Organisasi pergerakan modern pertama di Indonesia, Boedi Oetomo yang didirikan oleh pelajar STOVIA pada tahun 1908 dijadikan titik awal kebangkitan generasi cerdas cendikia. Keinsyafan dan kepahaman akan kesejahteraan rakyat dan impian kemerdekaan nasional menjadi titik tolak lahirnya kesadaran kebangsaan. Mahasiswa dimasa berikutnya tetap menunjukkan peran yang penting dalam tiap perubahan besar dinegeri ini sampai dengan jatuhnya Rezim Soeharto di paruh kedua dekade 90-an. Terlepas dari beberapa analisis siapa aktor intelektual dibalik mati tumbuhnya rezim, mahasiswa memainkan peran penting menggerakan kesadaran masyarakat.
Gerakan mahasiswa yang mencitrakan diri sebagai gerakan moral dengan ketetapan idealismenya menjadikan mahaiswa menyandang berbagai predikat, satu diantaranya adalah agen perubah (agent of change). Berbagai proses melalui diskusi, seminar, kajian, dan proses lainnya menjadikan mahasiswa selangkah lebih maju dibandingkan dengan manusia seumurannya yang tidak berkesempatan menikmati bangku perguruan tinggi. Mahasiswa dapat memahami permasalahan sampai dengan akarnya, melihat secara komprehensif dan integral beserta faktor lain yang berkaitan dan saling mempengaruhi. Mengedepankan moralitas, dan sifat gerakan yang universal menjadikan mahasiswa mendapat tempat tersendiri di masyarakat Indonesia.

Disorientasi Pergerakan
Saat ini perlu kiranya kita mengkomparasikan semua hal diatas dengan keadaan pergerakan mahasiswa Indonesia sekarang yang sedang mengalami disorientasi. Keberpihakan bersama rakyat dengan slogan “Berjuang bersama rakyat atau menjadi bagian dari penindas” seakan sekedar teriakan di tengah padang pasir. Arah perjuangan beralih dari perhatian kepada kondisi riil masyarakat yang tertindas dan menderita akibat berbagai kebijakan yang tidak berpihak kepada investasi politik. Berbagai kasus yang merugikan masyarakat saat ini mendapatkan porsi yang sangat kecil di gerakan mahasiswa. Sebut saja keterpurukan pasar tradisional oleh pasar-pasar modern, petani yang tercerabut ritme hidupnya akibat lahannya diambil untuk perumahan dan jalan tol, kebijakan kontrak yang memberikan keleluasaan bagi pengusaha untuk mem-PHK-kan buruh secara sepihak.
Disorientasi menurut penulis dibagi dalam dua ciri, tapi sama-sama meninggalkan keberpihakan pada kondisi riil masyarakat. Pertama, gerakan mahasiswa cenderung lebih tertarik pada isu global ataupun nasional seperti konflik Palestina, Afganistan, ataupun perdagangan bebas yang terlihat sebagai euforia semata. Aksi terbatas pada demonstrasi jalanan yang berakhir dengan press release. Kedua, Organisasi ekstra kampus sebagai motor gerakan mahasiswa tak lagi mampu menjadi kawah candradimuka yang melahirkan para kader berwawasan kerakyatan, tapi melahirkan kader  berwawasan kekuasaan. Organisasi gerakan menjadi kendaraan atau broker untuk memasukkan kadernya dalam ranah politik praktis. Pilkada di berbagai daerah Jawa Tengah baik Bupati atau Gubernur menjadi momen penting untuk memulai investasi politik. Konstelasi politik yang makin tinggi menjelang Pilkada Gubernur di Jawa Tengah ataupun Bupati di beberapa kabupaten menjadi momen penting bagi investasi politik. Organisasi gerakan ataupun kader ikut sibuk dengan dukung mendukung calon penguasa dengan berkedok mengadakan seminar, diskusi, serta berbagai kajian yang ujung-ujungnya memperkenalkan dan sosialisasi calon. Adapula yang langsung terjun dalam formasi tim sukses.
Gerakan mahasiswa terjebak atau menjebakan diri pada kepentingan kekuasaan kelompok dan meninggalkan keuniversalan gerakan. Penulis melihat adanya peran penting yang lebih bermartabat bagi gerakan mahasiswa dalam kasus pilkada, misal dengan melakukan pencerdasan bagi pemilih untuk memilih calon penguasa yang bersih dari kasus kriminal seperti korupsi dan money politic, mumpuni, kuat, dan berwawasan bahwa pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan penguasa atas rakyat. Bersama budayawan dan elemen masyarakat lain, mahasiswa dapat menuntut adanya kontrak politik, agar para calon berpikir ulang saat membuat janji pada saat kampanye. 
Sistem pemilihan pimpinan di Indonesia memang sangat memungkinkan di lakukannya usaha-usaha kotor untuk menggolkan kemenangan. Misalnya penggiringan dan penekanan pada aparatur pemerintah, dari tingkat daerah sampai dengan desa untuk menggiring massa kepada satu calon, hal ini khususnya dilakukan oleh calon incumbent ataupun calon yang saat ini duduk pada struktural penting, misalnya Sekretaris Daerah. Belum lagi, pembodohan massa rakyat dengan praktik politik uang. Bukankah saat ini trend yang terjadi adalah masuknya pengusaha kepada ranah politik, mengandalkan pengaruh kekuatan uang. Pembagian  sepeda motor oleh pimpinan satu partai politik tingkat kabupaten kepada tiap pimpinan di tingkat kecamatan di Banyumas diindikasikan berasal dari calon yang menginginkan kendaraan politik melalui partai tersebut. Ironis, gerakan mahasiswa menutup mata, justru ikut berpusar dalam hiruk pikuk pilkada. Mahasiswa tidak berani berseberangan dengan kekuasaan, membuat barisan tersendiri sebagai kontrol kekuasaan dan meneriakan moralitas.

Potong Generasi
Melemahnya visi kerakyatan menjadikan arah gerakan mahasiswa tidak jelas. Orientasi strukturalis lebih dominan daripada orientasi moral sebagai kontrol kekuasaan. Gerakan mahasiswa sekarang kebanyakan diisi oleh mahasiswa yang tidak mengerti sejarah kebangsaan Indonesia yang panjang. Oleh karena itu diperlukan kembali reorientasi visi gerakan mahasiswa, mengembalikan gerakan mahasiswa pada perannya yang bermartabat. Selain itu, disorientasi terjadi akibat kuatnya pengaruh alumni gerakan pada kader gerakan yang masih aktif, khususnya alumni gerakan yang telah menempati poisi struktural penting dalam politik negara. Ketergantungan doktrin dan finansial mengakibatkan kader sekedar wayang yang dimainkan oleh dalangnya. Untuk mengakhiri keadaan ini, dibutuhkan generasi cerdas berkarakter kuat untuk memotong rantai generasi dan ketergantungan doktrin serta finansial. Meskipun, tidak dapat dipungkiri, finansial menjadi modal penting dalam bergulirnya gerakan mahasiswa.
Masyarakat tentunya menantikan kembalinya para kader gerakan mahasiswa yang bermartabat, yang benar benar berpihak pada penderitaan rakyat, bukan gerakan mahasiswa yang menjual kemiskinan demi eksistensi dan kekuasaan.

Satu Balasan ke DISORIENTASI GERAKAN MAHASISWA (catatan untuk para aktifis)

  1. jepits mengatakan:

    salam kenal …. semangat terus bro, oya kasih komen ke artikel kami ya …
    http://jepits.wordpress.com/2007/11/10/inferioritas-bangsa-indonesia-who-cares-2/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: