Pertanian untuk siapa?

Kebutuhan pangan dunia kian meningkat seiring dengan laju pertambahan penduduknya. Berbagai upaya dan usaha dilakukan. Para akademisi  dan para ahli serta pakar berlomba menemukan cara untuk mengatasi kebutuhan tersebut. Saat ini pemerintah Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi memprogramkan banyak hal, dari mulai membuka sawah berhektar-hektar, hingga memberikan bantuan peralatan untuk para petani. Semua itu -sekali lagi- untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Disisi lain minat generasi muda untuk terjun dalam dunia pertanian semakin menurun, apalagi anak muda yang bercita-cita menjadi petani, sulit ditemukan. Stigma bahwa petani itu sulit, kotor, melelahkan dan masa depan suram sudah terlanjur melekat. Namun apa daya petani tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Sebagus dan seampuh apapun program pertanian, bila tidak ada yang mengerjakan lantas akan menjadi apa? Bahkan para petani sendiri selalu menginginkan anak turunanya tidak menjadi seperti mereka, anak turunan mesti lebih baik kehidupanya dibandingkan dengan orangtuanya. Profesi pekerjaan lain dinilai lebih baik dan lebih bergengsi. Perlu dicari akar masalah dari stigma seperti itu untuk dapat merubahnya.

Selama ini petani selalu dikalahkan oleh siatem dan dipaksa untuk tidak bisa mandiri, sehingga kedaulatan petani tidak ada. Bila harus disamakan dengan produsen barang, petani memproduksi hasil tani (bahan makanan), namun berbeda dengan produsen barang dan jasa lainya, petani sampai saat ini tidak mampu menentukan sendiri harga hasil pertanian. Petani dipaksa untuk selalu kalah dengan mekanisme pasar, yang entah siapa yang menentukan. Adakalanya harga bagus, sering juga mengalami kerugian akibat harga yang rendah. Tidak adanya kepastian harga, dan panjangnya rantai distribusi pasar juga menyebabkan petani pada posisi kalah.

Hal ini diperparah dengan dipaksanya petani untuk bergantung pada input pertanian seperti peatisida kimia, pupuk kimia, juga benih hibrida. Kebutuhan input tersebut seolah menjadi kewajiban bagi para petani untuk menggunakanya, sehingga saat ini petani merasa tidak mungkin bertani tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Bila dirunut kebelakang kondisi ini terjadi sejak revolusi hijau atau di Indonesia program ini disebut dengan panca usaha tani diluncurkan diawal orde baru berkuasa. Awalnya petani dipaksa untuk mengikuti program dari pemerintah saat itu untuk menggunakan benih unggul, pupuk kimia dan pestisida kimia. Banyak petani menolak dan banyak pula yang terpaksa mengikuti program tersebut. Dari terpaksa petani menjadi bisa dan akhirnya menjadi biasa. Proses dipaksa terpaksa bisa dan biasa pada ahirnya sulit dihilangkan hingga saat ini. Program tetsebut mencapai puncaknya pada tahun 1984 dengan tetcapainya swasembada beras nasional. Namu efek yang ditimbulkan juga menjadi luar biasa dan sangat terasa hingga saat ini, salah satunya adalah yang dibahas saat ini. Disamping itu penggunaan pestisida kimia dan pupuk kimia yang berlebihan dan terus menerus justru merusak keseimbangan alam dan memunculkan resistensi serta resurgensi pada organisme pengganggu tanaman. Rusaknya kesuburan tanah juga tidak tetlepas dari praktik yang tidak bijaksana ini. Efek ini jelas lagi lagi merugikan petani.

Perlu kesepahaman bersama dan niat bersama untuk memperbaiki kondisi ini. Pertanian dan segala aspek yang terkait dengannya menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tiap sendi kehidupan kita. Perlu menghilangkan sikap egois dari masing-masing diri untuk memajukan dunia pertanian Indonesia yang sehat dan aman tanpa merusak lingkungan. Kebersamaan, satupadan dan saling merhargai sesama mahluk untuk kelestarian alam adalah sikap yang organis, untuk menujur pertanian organis demi tercapainya keharmonisan.

The organic way, all in harmony.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: